[CoPas] Gentle Menghadapi Masalah

Allah SWT Menciptakan kita dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Allah juga sudah menyempurnakan penciptaan kita dengan sebaik-baik penciptaan. Allah pula Yang Mengatur segala apa-apa yang kita butuhkan. Mulai dari nafas yang kita hirup, makanan dan minuman yang kita konsumsi sampai gerak atom-atom dalam tubuh kitapun tak luput dari Genggaman dan Pengawasan dari Sang Maha Pengatur jagat raya ini. Maha Suci dan Maha Agung Allah SWT.

Allah juga Maha Tahu apa-apa yang kita butuhkan, ketika kita butuh kehangatan, kedekatan dan belaian Kasih Sayang-Nya, Dia takkan segan-segan mencurahkannya. Bahkan Kasih Sayang-Nya tidak akan pernah bisa disamai oleh makhluk yang paling penyayangpun di dunia ini, karena dengan Kasih Sayang Allah-lah kita diciptakan, dari tiada kita diadakan, dihidupkan dan dijadikan khalifah-Nya di bumi ini.

Tiap hari, dalam kehidupan makhluq yang bernama manusia, lika-liku lehidupan selalu mendampingi. Segala bumbu hidup selalu menyertai dimanapun bahkan kapanpun kita berada. Kadang kita senang, sehabis itu kesusahan datang. Suatu waktu kita menangis setelah itu kita bisa tersenyum bahagia. Kadang sebuah titik roda kehidupan kita ada di bawah, setelah itu berputar berada di titik tertingginya.

Tanpa ditanya dan diragukan, semua orang pasti legowo ketika berhadapan dengan hal-hal yang membuat hatinya gembira, suka cita, atau sumringah. Namun, tidak sedikit yang merasa down tatkala diberi sesuatu yang menyedihkan atau menyusahkan hati karena ketidaksiapannya untuk “susah”. Ketika benturan-benturan mulai terasa ia seakan merasa dunia tidak bersahabat dengannya. Ketika badai kehidupan mulai membongkar pondasi-pondasi prinsip hidupnya, tak sedikit yang menyalahkan situasi dan tempat ia berada. Sehingga makin banyak masalah yang menimpanya, makin banyak keluhannya. Makin besar kesulitan yang ia hadapi makin hebat pula ia mengecamnya. Bahkan, tak sedikit yang menyalahkan Allah, menganggap-Nya tidak adil serta mengkambinghitamkan-Nya sebagai aktor yang paling bertanggung jawab atas kesusahan yang dideritanya. Naudzubillaah min dzalik.

Keberadaan suatu hal yang membuat kita susah, masalah, adalah sesuatu yang sunnatullah. Tak seorangpun manusia bisa menghindar dari perputaran roda ini. Cobaan datang silih berganti sebagaima silih bergantinya kebahagiaan yang datang kepada kita. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 155, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Terlebih jika kita termasuk orang-orang yang termaktub di dalam al-Ankabut ayat 2 berikut ini. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” Jadi, otomatis semenjak kita mengikrarkan diri kita termasuk manusia yang beriman maka semenjak itu pula, beberapa ujian (masalah) kehidupan sudah dipersiapkan khusus untuk kita, dan jangan bermimpi ujian itu akan salah alamat, karena Allah sudah Memilih dan Memilahkan yang mana buat saya, dan yang mana buat Anda. Tak peduli apa jabatan kita, apa maqam kita di sisi Allah, apa derajat kita di hadapan manusia, jika kita mengaku beriman, maka bersiap-siaplahlah kita termasuk dalam daftar gilir, waiting list orang-orang yang kebagian “durian runtuh” dunia yang sering kita sebut masalah.

Yang mengherankan, tiap-tiap manusia mempunyai sikap yang berbeda ketika berhadapan dengan hal yang satu ini. Ada yang menganggap masalah atau rintangan yang dihadapinya merupakan sebuah tantangan untuk bisa lebih baik dan lebih maju. Ada juga yang menghadapinya dengan cool, tanpa beban, tenang. Bahkan kalangan orang-orang saleh di sisi Allah akan selalu merindukan cobaan, rintangan yang didatangkan Allah pada mereka. Malahan, mereka justru khawatir jika dalam kehidupannya mereka tidak pernah diuji, dicoba oleh Allah, seakan-akan mereka merasa dicuekin oleh Allah.

Di sisi lain, segologan manusia menyikapinya sebaliknya. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk penderitaan yang takkan pernah berakhir. Bahkan mereka-mereka yang tidak kuat bisa-bisa tak segan-segan mengakhiri hidupnya. Putus Asa. Naudzubillaah.

Singkat kata, ketika ada masalah, tergantung kita dong bagaimana menghadapi segala macam ujian itu, atau segala macam rintangan di depan kita. Persis, seperti kita pada saat ujian. Gak mungkin toh kita mnganggapnya sebagai akhir kehidupan kita, justru malah kalau kita enggan melaluinya kita gak akan lulus-lulus. Bahkan, murid TK pun harus diuji.

Islam merumuskan bahwa segala permasalahan yang kita hadapi bukannya tanpa tujuan. Apa-apa yang kita punya, yang berada di samping kita, semuanya Allah yang Mendatangkan. Gak mungkin dong Allah hanya iseng saja. Mahasuci Allah Yang Menciptakan Segalanya tanpa sia-sia. Berikut beberapa poin yang penulis bisa rangkumkan yang mudah-mudahan bisa membuat kita bersikap positif, gentle terhadap permasahan yang sering kita hadapi: InsyaAllah.

1. Masalah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah.

Analogi gampang untuk memahaminya adalah seperti ketika kita melihat bayi kita yang lucu, imut menggemeskan. Saya yakin, Anda takkan ragu mencubiti pipinya yang tembem, padahal saya yakin Anda tahu itu bisa saja menyakitinya. Tapi kenapa Anda lakukan? Tak lain jawabannya adalah karena Anda menyayanginya. Saking sayangnya Anda ingin mendengarkan tangisan manjanya dan ketika ia mengaduh dengan imutnya. Allah SWT yang Menciptakan kita tentunya juga Maha Tahu kalau kita bisa saja “tersakiti” ketika Allah “mencubit gemes” kita. Tak lain dan tak bukan Allah ingin Mendengarkan dendang dzikir merdu, manja, dan syahdu yang kita lantunkan dengan khusu’ dan pengharapan, karena mungkin di Hadapan Allah kita imut. Apalagi, semakin sering kita mengaduh, memohon pertolongan dan petunjuknya, kita semakin dekat dengan-Nya.

Imam Bukhari r.a. meriwayatkan hadits qudsi, “Allah SWT berfirman. ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku. Aku bersamanya setiap kali ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam sebuah kelompok, niscaya Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekati-Ku dalam jarak sejengkal, maka Aku mendekatinya dalam jarak satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku dalam jarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya dalam jarak satu depa. Apabila dia datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.”

Pun, Allah tidak pernah mendzolimi hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Bahkan Allah sudah mengukur “cubitan-Nya” pada kita. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya … ” (Q.S. al-Baqarah: 286) Segala permasalahan yang kita hadapi tentunya dikadar sesuai dengan kemampuan kita Kalau Anda masih mahasiswa semester awal, apa mungkin dosen Anda menguji Anda soal yang berkelas semester akhir. Anda bisa saja klepek-klepek dan tak berkutik.

2. Masalah adalah salah satu bentuk pengajaran Allah pada kita

Mahasuci Allah dari sifat Meyia-nyia dalam semua Penciptaan-Nya. Allah bukan dzat yang tanpa perhitungan, bukan pula dzat yang suka iseng. Justru Allah Yang Maha Cerdas dan Yang Menguasai segala macam ilmu, bahkan seandainya semua tumbuhan dijadikan pena sedangkan air laut dijadikan tinta untuk menuliskan ilmu-Nya, niscaya tidakkan pernah cukup, walau kita tambahkan lagi pena dan tinta sejumlah itu pula. Allah juga yang Maha Berkehendak Mengajarkan ilmu-Nya kepada kita. Allah berfirman, “(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, … “ (Q.S. al-Maidah: 110)

Permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, juga merupakan sebuah sarana dan wahana untuk mempraktekkan, learning by doing, bagaimana seharusnya kita menghadapi hidup. Kita tak mungkin pernah memahami kenapa Allah Memerintahkan kita untuk mengasihi yang lemah, mencintai fakir miskin, kalau kita dak pernah merasakan sehari tanpa makan. Mustahil juga kita bisa tahu bagaimana bersikap sabar, pantang menyerah, husnudzon, jika kita hidup tanpa pernah merasakan perjuangan yang lumayan berat. Sebagaimana anda tidak akan mempunyai tubuh yang kekar tanpa pernah “memberi beban” otot-otot Anda dengan sesuatu yang memberatkan dan memaksa otot-otot itu berkontraksi. Semua itu tentu demi kebaikan kita, karena Allah tidak pernah Menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Allah Menciptakan semua pasti sarat dengan hikmah, nilai, tujuan. Tak terkecuali hal itu pun ada dalam kesulitan ekonomi yang kita hadapi, keluarga yang kurang begitu harmonis. Bisa saja Allah Mengajari kita untuk hidup hemat, bekerja dan berdoa lebih keras, memberi perhatian yang lebih pada keluarga kita, de el el. Saya yakin Anda yang lebih tahu daripada saya tentang apa yang Allah Kehendaki dengan Menghadirkan permasalah dalam ruang kehidupan Anda saat ini.

3. Setiap satu kesulitan mendatangkan dua kemudahan.

Sudah banyak contoh orang-orang sukses yang kesuksesannya bermodalkan nol, dengan ujian dan tantangan serta permasalahan yang sering datang. Namun, berkat kesabaran, ketekunan, serta do’anya pada Allah SWT, masalah dan rintangan yang dihadapi bisa ditanggulangi.

Al-Insyirah ayat 5-6, menyebutkan, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Di dalam Tafsir al-Misbah-nya, Quraish Shihab menyebutkan, “Agaknya Allah SWT dalam ayat 5 dan 6 ini bermaksud menjelaskan salah satu sunnah-Nya yang bersifat umum dan konsisten yaitu, ‘setiap kesulitan pasti disertai atau disusul oleh kemudahan selama yang bersangkutan bertekad untuk menanggulanginya.”

Yang ajaib kalau kita lihat dari ilmu tata bahasa Arab, kata al-‘usr (العسر) yang bermakna kesulitan, memakai bentuk definit/makrifat (tertentu), sedangkan yusron (يسرا) yang bermakna kemudahan, memakai bentuk indefinit/nakirah (tak tertentu) dan disebutkan sebanyak dua kali dalam ayat ini. Ini mengisyarahkan bahwa setiap satu kesusahan mendatangkan dua kemudahan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Khakifah Umar Ibn al-Khattab kepada Abu “Ubaidah Ibn al-Jarrah yang memimpi pasukan Islam menghadapi Romawi, “Bila seorang mukmin ditimpa suatu kesulitan, niscaya Allah akan menjadikan sesudah kesulitan itu kelapangan karena sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kelapangan.”

Karena itulah, penulis berpendapat jika frame pemikiran kita, dzon, persangkaan kita baik pada Allah, insyaAllah ada banyak hal yang akan kita dapatkan melalui rintangan yang kita hadapi. Memang, ketakutan, kekhawatiran kadang menyusup di hati. Namun, hendaknya hal itu jangan sampai membuat kita tidak mempercayai Allah. “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit?…” (Q.S. an-Nazi’at: 27) Kalau Allah sangat Mampu Membikin langit, Menghias, Membnagun serta Mengawasinya, apatah Allah tidak akan sanggup Mengeluarkan kita dari masalah yang kita hadapi? Allah Penguasa jagat raya alam ini. Siapa lagi yang bisa Membantu Menyelesaikan permasalahn kita? Maka dari itu sekali lagi tergantunga dzon, persangkaan kita kepada Allah pada saat kita menghadapai sesuatu. Jika kita meresponnya dengan respon yang negatif, bisa jadi Allah meresponnya dengan yang negatif pula. Tapi jika kita meresponnya dengan sikap positif, niscaya, insyaAllah, Allah akan Membantu kita menyelesaikan segala permasalahan yang kita hadapi. Yang perlu kita lakukan, adalah sabar (bukan denagn makna pasif), terus berikhtiar dan berdo’a. Mudah-mudahan dengan begitu, Allah Menebarkan Rahmat, Kasih Sayang-Nya kepada kita semua, Amiin. Wallaahu A’lam bish-showaab. (@@b, tirtapena.com Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Nurul Abyadh)

Sumber : http://www.tirtapena.asia/index.php?option=com_content&task=view&id=86&Itemid=58

Dengan kaitkata

2 thoughts on “[CoPas] Gentle Menghadapi Masalah

  1. BAKTI WALUYO mengatakan:

    bagus juragan..saya copy y k blog saya!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: